Minggu, 24 Juli 2016

MINIMNYA GURU (suara anak negri- kami butu guru. kami juga bisa)

Prof Yohanes Surya dalam sorveinya di Timur papua

Prof Yohanes Surya: Problem Akut Sistem

Pembelajaran di Indonesia (khususnya Timur papua)

Metode Tepat, Anak Kita Hebat-Hebat

“Wemi, 17 + 5 berapa?” Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang siswa kelas V di suatu sekolah dasar di Kabupaten Tolikara,

garis-garis kecil dan 5 garis-garis kecil. Kemudian dia menghitung banyaknya garis itu satu per satu hingga dia dapatkan hasil 22.

Wemi termasuk salah satu anak yang cukup baik. Anak yang lain bahkan tidak bisa menghitung penjumlahan sama sekali, apalagi perkalian dan pembagian.

Saya sempat bertanya kepada kepala sekolah, kenapa anak-anak bisa

menjawab, “Kualitas guru di sini sangat rendah dan muridnya memang tidak berbakat matematika.”

“Lalu apa kriteria anak ini naik kelas?” tanya saya lebih lanjut. “Tidak ada! Semua anak dinaikkan. Kalau tidak naik kelas, orang tua akan datang bawa parang dan

lanjutnya.

tombak,”

anak-anaknya pintar. Itu sebabnya, mereka menyuruh anaknya bersekolah. Jika

mereka anggap sekolah tidak mengajar dengan baik. Wajar saja kalau

dengan parang dan tombak.

Selama 2008/2009, saya dengan tim dari Surya Institute berkeliling ke kota-kota dan kabupaten di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Kami melatih ratusan, bahkan ribuan, guru IPA dan matematika. Selama pelatihan ini

menemukan

kami

belajar matematika

pembelajaran yang

bukan keadaan/potensi siswa.

Potensi Siswa

Secara rata-rata, kemampuan siswa Indonesia dalam belajar matematika atau IPA (fisika) sangat baik. Anak-anak Indonesia tidak bodoh. Kalau mereka mendapat kesempatan, mereka akan berprestasi luar biasa.

Sekitar pertengahan 2009 kami membawa 5 anak dari Kabupaten Tolikara dan 5 anak dari Wamena ke Surya Institute di Tangerang. Tolikara dan Wamena adalah daerah pegunungan di Papua yang selama ini dianggap sangat terbelakang. Di Surya Institute para siswa ini dilatih matematika

menyenangkan) 4 jam per hari. Selama pelatihan kami melihat bahwa sesungguhnya siswa-siswa ini sangat cerdas matematika,

selama ini yang menganggap mereka bodoh. Siswa ini juga punya keinginan kuat untuk maju. Mereka ingin sepintar anak-anak lain dari Pulau Jawa. Mereka juga sangat rajin belajar.

Fakta itu mengingatkan saya sekitar 15 tahun

waktu saya pulang dari Amerika Serikat. Kala itu teman saya bertanya, mengapa mau pulang ke Indonesia? Bukankah sudah

Amerika Serikat. Ketika saya jawab bahwa saya pulang karena ingin menjadikan Indonesia juara dunia dalam olimpiade fisika, teman saya ini tertawa. Dia bilang Indonesia tidak akan bisa jadi juara, anaknya bodoh-bodoh dan malas-malas. Ternyata 5 tahun kemudian, setelah saya menemukan metode yang tepat, anak-anak Indonesia mulai bermunculan menjadi juara dalam berbagai lomba tingkat dunia.

Hal itu semakin meyakinkan saya bahwa kalau kita bisa menemukan metode yang tepat dan guru yang hebat, anak-anak kita akan menjadi luar biasa.

Kualitas Guru

Selama melatih ribuan guru IPA dan matematika di berbagai kota

menemukan perbedaan kualitas yang cukup mencolok antara guru-guru di kota besar dan daerah-daerah, terutama daerah tertinggal.

Guru di kota

terbaik, sudah cukup baik kualitasnya. Mereka punya kesempatan

mengembangkan

menggunakan

pembelajarannya. Bahkan, ada yang mampu membuat perangkat-perangkat

hanya kesulitan ketika harus melatih siswa ke tingkat olimpiade. Mereka

olimpiade ini.

Untuk guru-guru di daerah, keinginan majunya sangat kuat. Mereka sadar bahwa mereka kurang. Mereka ingin memperbaiki diri. Seorang peserta dari Aceh yang kami latih selama 1 bulan di Jakarta mengatakan, “Selama 20 tahun saya mengajar, belum pernah kami mendapatkan pelatihan seperti ini. Di sini walaupun kami belajar dari pagi hingga malam hari, kami sangat menikmati. Kami baru sadar bahwa ternyata kami ini sangat kurang.”

Guru dari daerah lain mengaku bahwa selama ini dia mengajar sangat

pelajaran IPA yang begitu asyik dan menyenangkan menjadi mata pelajaran yang

Guru ini mengaku

mendapatkan metode yang tepat. Akhirnya yang terjadi adalah siswa bosan dan mengganggap IPA atau fisika itu sulit.

Masih banyak kisah guru yang mengaku bahwa mereka selama ini belum

bingung karena selama ini belum banyak mendapat pelatihan yang baik. Jadi, sebenarnya guru-guru yang ada di Indonesia adalah guru yang baik. Mereka punya hati, mereka

butuh bantuan,

berkembang menjadi lebih baik.

What’s Next?

Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia, seluruh stakeholder pendidikan, termasuk pemerintah

membahu dalam

dimaksud kualitas

menguasai konten (guru IPA harus mengerti konsep-konsep IPA secara benar dan guru matematika mengerti dan mampu mengerjakan soal-soal matematika dengan benar) dan juga metode pembelajaran yang Gasing.

Untuk guru-guru

pelatihan intensif sampai

siswa-siswa

meningkatkan kemampuan sampai ke level olimpiade. Untuk guru-guru di daerah, terutama di daerah terpencil, perlu ada pelatihan khusus yang cukup lama (tidak hanya pelatihan

Pelatihan 6 bulan hingga 1 tahun ini akan membantu guru-guru ini meng-update konten yang dimiliki dan memperbaiki metode pembelajaran. Kita berharap ke depan kemampuan guru-guru di daerah

menyamai kemampuan guru-guru di kota-kota besar.

Memang untuk pelatihan yang lama ini butuh dana

besar. Tetapi, dengan

cukup

dicanangkan

tidaklah sulit dilaksanakan. Saya percaya jika semua stakeholder

meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia, kualitas sumber daya manusia kita akan meningkat secara luar biasa.

Catatan tambahan:

Salah satu aspek yang dikemukan Prof Yohanes Surya (YS) merupakan salah satu masalah klasik di dunia pendidikan kita yakni faktor kualitas guru dan sarana serta pra-sarana daerah yang tidak memadai. Contoh kasus sederhana adalah jauhnya jarak sekolah dari rumah, sementara tidak ada akses jalan yang memadai menuju sekolah

Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Sayangnya, semangat bersekolah anak-anak itu tidak dibarengi ketersediaan

banyak sekolah

Kalimantan yang

belajar seadanya.

Kritk yang disampaikan

tepat, karena beliau memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam dunia pendidikan, khususnya pembinaan anak-anak berbakat. Sejak melatih Tim Olimpiade Fisika Indonesia sejak 1993 dan akhirnya pulang ke Indonesia, YS berhasil membawa nama besar bangsa Indonesia dibidang Fisika SMA pada khususnya, dan ilmu eksata ditingkat SD dan SMP melalui IJSO.

Beliau pendiri Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Surya, rektor Universitas Multimedia Nusantara. Pendiri TOFI, peloppr ajang Asian Physic Olympiad, pelopor dari Internasional Junior School Olympiad, The First Step to Nobel Prize, perintis kelas Super, motivator para guru

yang

siswa

dan

pencetus GASING, pembina TOFI dan sebagainya.

Salam Nusantaraku, ech-wan, 8 Jan 2009

Disadur dari

Kompas.com, 14 Desember 2009

Download Contoh Buku Gasing

Bahan Pelatihan Fisika Gasing – Mekanika Dasar (Pdf) Buku Peserta Fisika Gasing – Mekanika Dasar (Pdf)

Beri peringkat: